Suku Toraja sendiri bermukim di utara pegunungan Sulawesi Selatan atau sekitar 8 jam perjalanan dari pusat kota Makassar. Toraja Utara yang beribu kota Rantepao ini berpenghuni kurang lebih 26 ribu jiwa dan sering dijadikan awal penjelajahan wisatawan lokal mmapun mancanegara yang ingin melihat keunikan di wilayah tersebut.

Tak hanya kulinernya yang khas, keindahan alam dan tradisi unik di Toraja telah mencuri perhatian dunia. Salah satunya tradisi Rambu Solo. Berbeda dengan upacara kematian di daerah lainnya, Suku Toraja mengadakan upacara penyempurnaan untuk masyarakatnya yang meninggal dunia dan akan diadakan acara sebesar mungkin yang mampu menghabiskan dana hingga ratusan juta rupiah.

Di antara panjangnya rangkaian upacara Rambu Solo, ada satu momen di mana mengantar jenazah ke alam yang disebut Poyo yakni prosesi wajib untuk pembuatan patung yang dinakaman tau-tau. Tradisi ini yang menyebabkan prosesi kematian Rambu Solo bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan lamanya.

Menurut masyarakat setempat, kata “tau” ini sendiri berarti orang. Jadi tau-tau ini sendiri bisa diartikan menjadi orang-orangan atau suatu benda yang menyerupai manusia. Dalam proses pembuatannya, tau-tau tidak hanya diproses sebagai patung pada umumnya, namun patung tersebut akan diukir da dibuat menyerupai wajah masyarakat Toraja yang meninggal.